Senin, 31 Desember 2012

Seandainya Rasulullah Berkunjung Ke Rumah Kita

Bayangkan apabila Rasulullah SAW dengan seizin Allah tiba-tiba muncul mengetuk pintu rumah kita…. Beliau datang dengan tersenyum dan muka bersih di muka pintu rumah kita. Apa yang akan kita lakukan? Mestinya kita akan sangat berbahagia, memeluk beliau erat-erat dan lantas mempersilahkan masuk ke ruang tamu. Kemudian kita tentu akan meminta dengan sangat agar Rasulullah sudi menginap beberapa hari di rumah kita.

Beliau tentu tersenyum…..

Tapi, barangkali kita meminta pula Rasulullah SAW menunggu sebentar di depan pintu karena kita teringat Video CD rated R18+ yang ada di ruang tengah. Kita tergesa-gesa memindahkan dahulu video tersebut ke dalam.


Beliau tentu tetap tersenyum…..

Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengetahui satupun nama keluarga Rasulullah dan sahabatnya tetapi hapal di luar kepala mengenai anggota F4 atau nama teman-teman Sponge Bob. Barangkali kita terpaksa harus menyulap satu kamar mandi menjadi ruang salat. Barangkali kita teringat bahwa perempuan di rumah kita tidak memiliki koleksi pakaian yang pantas untuk berhadapan kepada Rasulullah SAW.

Beliau tentu tersenyum…..

Belum lagi koleksi buku, kaset, dan karaoke kita. Ke mana kita harus menyingkirkan semua koleksi tersebut demi menghormati junjungan kita? Barangkali kita menjadi malu diketahui junjungan kita bahwa kita tidak pernah ke masjid meskipun azan berbunyi.

Beliau tentu tersenyum…..

Atau barangkali kita teringat akan lukisan wanita setengah telanjang yang kita pajang di ruang tamu, sehingga kita terpakasa juga memindahkannya ke belakang secara tergesa-gesa. Barangkali kita akan memindahkan lafal Allah dan Muhammad yang ada di ruang samping dan kita meletakannya di ruang tamu.

Beliau tentu tersenyum…..

Bagaimana bila kemudian Rasulullah SAW bersedia menginap di rumah kita? Barangkali kita teringat bahwa kita lebih hapal lagu-lagu barat daripada menghapal sholawat. Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengetahui sedikitpun sejarah Rasulullah SAW karena kita lupa dan lalai mengajari anak-anak kita.

Beliau tentu tersenyum…..

Barangkali kita menjadi malu karena pada saat maghrib keluarga malah sibuk di depan TV. Barangkali kita menjadi malu karena kita menghabiskan hampir seluruh waktu untuk mencari kesenangan duniawi. Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita tidak pernah menjalankan salat sunnah. Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita sangat jarang membaca Al-Quran. Barangkali kita menjadi malu ketika kita tidak mengenali para tetangga di sekitar.

Beliau tentu tersenyum…..

Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah SAW menanyakan kepada kita siapa nama tukang sampah yang setiap hari lewat di depan rumah kita. Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah SAW bertanya tentang nama dan alamat tukang penjaga masjid di kampung kita.

Betapa senyum beliau masih ada di situ…..

Bayangkan apabila Rasulullah SAW tiba-tiba muncul di depan rumah kita….
Apa yang akan kita lakukan?? Masihkah kita memeluk junjungan kita dan mempersilahkan beliau masuk dan menginap di rumah kita? Ataukah akhirnya dengan berat hati, kita akan menolak beliau berkunjung ke rumah karena hal itu akan sangat membuat kita repot dan malu.

Maafkan kali ya Rasulullah…..

Masihkah beliau tersenyum?

Senyum pilu, senyum sedih, dan senyum getir…..

Oh betapa memalukannya kehidupan kita saat ini di mata Rasulullah.

Sumber : Buku Nutrisi Jiwa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar